Momen
kelulusan yang seharusnya dilaksanakan dengan penuh rasa syukur dan tangis haru
setelah menempuh tiga tahun menempuh pendidikan dibangku sekolah saat ini malah
diwarnai dengan sikap yang anarkis. Banyak orang – orang yang tak bersalah
menjadi korban kebengisan jiwa muda yang sedan berkobar, entah apa maksud dari
perbuatan mereka mungkin mereka ingin dilihat perkasa setelah mellibas semua
soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), terlepas dari apakah disaat UNBK mereka
menjunjung tinggi nilai kejujuran ataukah malah menegakkan sikap plagiatisme
entahlah hanya alloh swt dan merekalah yang tahu itu.
Baru-baru
ini telah terjadi sebuah ajang gagah-gagahan disebuah sekolah di propinsi jawa
tengah, apa yang ada dalam benak mereka sehingga mereka melakukan hal yang
anarkis momen yang seharusnya indah diwarnai dengan senyum, tawa riang kini
berbalik menjadi momen yang mencekam dimana mereka harus mempertaggung jawabkan
perbuatannya di hadapan aparat yang berwajib, beginilah ironi dari wajah
pendidikan di negeri ini apa yang salah mungkinkah mereka haus akan kasih
sayang orang tua, ataukah metode pembelajaran yang di terapkan di sekolah masih
ada yang ganjil, atau mungkinkah negeri ini yang tidak mau memperhatikan
karakter anak anak generasi penerus bangsa ini sehingga ajang gagah gagah pun
menjadi tradisi terutama dalam ranah tingkat pelajar. Haruskah momen kelulusan
dirayakan dengan cara membababi buta dan hura-hura yang menyebabkan terjadinya
keresahan didalam masyarakat, corat coret baju, berkonvoi dengan membikin macet
lalu lintas jalan raya bahkan sampai nekat berbuat asusila dengan pasangan
terkasih dengan alasan merayakan hari kelulusan, haruskah moral dijadikan
korban dalam hal ini . Ironi ini merupakan cerminan atau gambaran dari
kurangnya bimbingan dari keluarga maupun sekolah dalam menyikapi hari kelulusan.
Andaikan mereka mengerti akan satu hal harapan
negeri ini ada pada mereka.Orang tua mereka bersusah payah mencari nafkah
bahkan rela malu dan dicemooh banyak orang agar anak-anak mereka dapat meraih
pendidikan yang lebih tinggi dan kelak dapat mengangkat derajat kedua orang mereka
baik didunia maupun diakhirat namun nyatanya diakhir pendidikan yang seharusnya
warnai dengan rasa syukur atas apa yang ditempuh selama duduk dibangku sekolah
kini berbalik menjadi rasa malu yang tak pernah bisa terlupakan baik bagi diri
mereka sendiri maupun masyarakat sekitar.
Alangkah
indahnya apabila sebuah momen kelulusan dihiasi dengan rasa syukur terhadap
Alloh SWT yang telah memberikan hidayah berupa ilmu kepada setiap hambanya yang
mau belajar dan ingin berubah menjadi lebih baik lagi, dan juga rasa terima
kasih terhadap bapak ibu guru yang membimbing kita memberikan ilmunya agar
kelak diri ini menjadi insan yang berguna didalam masyarakat walaupun terkadang
adakalanya kita sebagai seorang murid sering membuat kesalahan namun guru-guru
kita tetap mendoakan agar kita menjadi orang yang sukses dan bermartabat
dimasyarakat. Lebih baik lagi apabila momen kelulusan sekolah diwarnai dengan
suatu hal yang positif seperti menyumbangkan barang mereka selama duduk
dibangku sekolah seperti buku atau seragam lama mereka daripada dicorat coret
lebih baik diberikan kepada adik kelas mereka yang membutuhkan, atau mungkin
doa bersama sebagai wujud rasa syukur terhadap Alloh SWT yang telah memberikan
kelancaran serta kemudahan dalam menjalani pendidikan hingga sampai pada ujian
akhir dan dinyatakan lulus.
Namun
setelah dinyatakan lulus bukan berarti perjalanan mereka terhenti sampai
disitu, mereka harus bejuang untuk masuk ke sekolah impian mereka dan memulai dari
awal lagi pendidikan yang akan mereka jalani dengan status lebih tinggi dan memulai kehidupan bermasyarakat.
M.
Arfian Septiansyah