Rabu, 14 November 2018

Warna – Warni Kelulusan Sekolah


Momen kelulusan yang seharusnya dilaksanakan dengan penuh rasa syukur dan tangis haru setelah menempuh tiga tahun menempuh pendidikan dibangku sekolah saat ini malah diwarnai dengan sikap yang anarkis. Banyak orang – orang yang tak bersalah menjadi korban kebengisan jiwa muda yang sedan berkobar, entah apa maksud dari perbuatan mereka mungkin mereka ingin dilihat perkasa setelah mellibas semua soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), terlepas dari apakah disaat UNBK mereka menjunjung tinggi nilai kejujuran ataukah malah menegakkan sikap plagiatisme entahlah hanya alloh swt dan merekalah yang tahu itu.
Baru-baru ini telah terjadi sebuah ajang gagah-gagahan disebuah sekolah di propinsi jawa tengah, apa yang ada dalam benak mereka sehingga mereka melakukan hal yang anarkis momen yang seharusnya indah diwarnai dengan senyum, tawa riang kini berbalik menjadi momen yang mencekam dimana mereka harus mempertaggung jawabkan perbuatannya di hadapan aparat yang berwajib, beginilah ironi dari wajah pendidikan di negeri ini apa yang salah mungkinkah mereka haus akan kasih sayang orang tua, ataukah metode pembelajaran yang di terapkan di sekolah masih ada yang ganjil, atau mungkinkah negeri ini yang tidak mau memperhatikan karakter anak anak generasi penerus bangsa ini sehingga ajang gagah gagah pun menjadi tradisi terutama dalam ranah tingkat pelajar. Haruskah momen kelulusan dirayakan dengan cara membababi buta dan hura-hura yang menyebabkan terjadinya keresahan didalam masyarakat, corat coret baju, berkonvoi dengan membikin macet lalu lintas jalan raya bahkan sampai nekat berbuat asusila dengan pasangan terkasih dengan alasan merayakan hari kelulusan, haruskah moral dijadikan korban dalam hal ini . Ironi ini merupakan cerminan atau gambaran dari kurangnya bimbingan dari keluarga maupun sekolah dalam menyikapi hari kelulusan.


 Andaikan mereka mengerti akan satu hal harapan negeri ini ada pada mereka.Orang tua mereka bersusah payah mencari nafkah bahkan rela malu dan dicemooh banyak orang agar anak-anak mereka dapat meraih pendidikan yang lebih tinggi dan kelak dapat mengangkat derajat kedua orang mereka baik didunia maupun diakhirat namun nyatanya diakhir pendidikan yang seharusnya warnai dengan rasa syukur atas apa yang ditempuh selama duduk dibangku sekolah kini berbalik menjadi rasa malu yang tak pernah bisa terlupakan baik bagi diri mereka sendiri maupun masyarakat sekitar.
Alangkah indahnya apabila sebuah momen kelulusan dihiasi dengan rasa syukur terhadap Alloh SWT yang telah memberikan hidayah berupa ilmu kepada setiap hambanya yang mau belajar dan ingin berubah menjadi lebih baik lagi, dan juga rasa terima kasih terhadap bapak ibu guru yang membimbing kita memberikan ilmunya agar kelak diri ini menjadi insan yang berguna didalam masyarakat walaupun terkadang adakalanya kita sebagai seorang murid sering membuat kesalahan namun guru-guru kita tetap mendoakan agar kita menjadi orang yang sukses dan bermartabat dimasyarakat. Lebih baik lagi apabila momen kelulusan sekolah diwarnai dengan suatu hal yang positif seperti menyumbangkan barang mereka selama duduk dibangku sekolah seperti buku atau seragam lama mereka daripada dicorat coret lebih baik diberikan kepada adik kelas mereka yang membutuhkan, atau mungkin doa bersama sebagai wujud rasa syukur terhadap Alloh SWT yang telah memberikan kelancaran serta kemudahan dalam menjalani pendidikan hingga sampai pada ujian akhir dan dinyatakan lulus.
Namun setelah dinyatakan lulus bukan berarti perjalanan mereka terhenti sampai disitu, mereka harus bejuang untuk masuk ke sekolah impian mereka dan memulai dari awal lagi pendidikan yang akan mereka jalani dengan status lebih tinggi  dan memulai kehidupan bermasyarakat.
M. Arfian Septiansyah

Sosok Yang Terlupakan



Ini sebuah kisah dimana aku atau bahkan sebagian dari kalian semua sudah melupakan sosok yang sangat terpenting didalam kehidupan kita dimana sekarang usianya sudah semakin tua dan tak lagi menghiraukannya namun tatkala diri ini melihat wajah- wajah cantik nan rupawan dan dihiasai dengan gemerlap cahaya yang begitu menyilaukan mata tanpa kita sadari dengan mudahnya hati ini berpaling dari dirinya. Bahkan tak segan – segan diri ini membuang engkau seakan – seakan dirimu adalah sampah yang tak berguna, sungguh malang nian nasibmu. Munkingkah karena saat ini dirimu sudah semakin tua, sehingga orang – orang tidak lagi memandangmu karena keriput yang semakin mengerut.
Sungguh orang yang tidak tahu rasa berterima kasih dan bertanggung jawab yang dengan tega menelatarkan dirimu sehingga kini engkau tak lagi berdaya dimata masyarakat. Padahal diwaktu dulu engkau sangatlah berharga dimata mereka,engkau bagaikan permata yang selalu disimpan disetiap hati para insan. Tak jarang aku melihat selalu dibawa kemana- mana oleh setiap orang karena dulu wajahmu sangatlah cantik indah menawan hati, yang membuat setiap insan terpesona dan tak ingin lagi berpaling dan sinarmu masih berkilauan dan masih belum ada yang dapat menyaingi daya pikatmu.
Namun sekarang dengan seiring berjalannya waktu dirimu kini semakin bertambah usia itu berarti sudah semakin tua, dan kini wajahmu sudah semakin keriput, gurat kecantikan yang dulu terpancar kini semakin memudar. Dan orang – orang pun sekarang sudah semakin sombong karena dirimu sudah tidak lagi bercahaya, kemilaumu semakin pudar dimakan oleh bertambahnya usia zaman yang semakin hari semakin bertambah. Nasibmu sekarang bagaikan barang rongsongkan masih berada namun keberadaanmu sudah tak lagi dianggap dan lebih memilih wajah-wajah baru yang lebih cantik dan berkilauan daripada memilih engkau padahal andaikan mereka sadari tanpamu tiada lengkap rasanya.

Begitulah segelintir kisah dari uang seratus rupiah yang kehadirannya sering kita anggap remeh namun sangatlah berarti bagi kehidupan kita, Tanpa adanya uang seratus rupiah tak akan ada uang satu juta rupiah tanpa ada uang seratus rupiah tidak aka ada uang satu milyar rupiah itu artinya syukurilah setiap uang atau hasil yang kita dapat seperti tercermin dalam surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya :
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
semoga kita dijadikan sebagai hamba yang pandai akan mensyukuri nikmat yang allah berikan walaupun sekecil apapun itu pasti kita tidak akan bisa menghitung atau membalas segala nikmat yang diberikan oleh Alloh SWT dan semoga kita tidak dijadikan sebagai hamba yang kufur akan nikmat yang Alloh berikan Aamiin Aamiin Ya Robbal Alamin.
M. Arfian Septiansyah